BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekolah adalah sebuah
lembaga yang dirancang untuk
pengajaran siswa (atau "
murid") di bawah pengawasan
guru.
Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa kemajuan melalui serangkaian sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini bervariasi menurut negara (dibahas pada bagian Daerah di bawah), tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.Sekolah adalah sebuah lembaga yang merancang pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan guru. Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional pada Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Dengan adanya tuntutan usaha-usaha mensejahterakan individu dan masyarakat, maka pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Pendidikan dalam arti luas tak hanya bersifat formal, namun ada juga yang bersifat tidak formal, seperti pendidikan informal dan non formal. Kedua jenis pendidikan tersebut harus terpadu dan kompeten dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung untuk seorang individu belajar.
Dalam pendidikan yang bersifat formal, terjadi interaksi pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam suatu lembaga formal (sekolah), interaksi seperti ini terus terjadi setiap hari, karena memang proses nya demikian. Sekolah termasuk lembaga formal, salah satu nya SMAN 9 Tangerang. Sekolah ini di selenggarakan oleh pemerintah karena termasuk sekolah negeri. Sekolah ini merupakan salah satu SMA negeri di daerah tangerang yang tergolong SMA baru, karena SMA ini sampai sekarang ini baru meluluskan 6 angkatan. Walaupun sekolah baru, namun akreditasi sekolah ini A. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Berbeda dengan sekolah-sekolah negeri yang ada di daerah Tangerang, sebut saja SMAN 1 Tangerang. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1958, dan itu merupakan jangka waktu yang lama jika di bandingkan dengan SMAN 9 Tangerang. Namun sekolah ini terus melakukan perbaikan tiap tahun nya, hingga sekolah ini bisa di katakan sekolah unggulan pendatang baru di daerah Tangerang.
Awal mula, SMAN 9 tangerang ini di selenggarakan dengan menumpang gedung SMAN 3 Tangerang, lalu dengan berjalan nya waktu, SMAN 9 Tangerang ini di pindahkan ke sebuah daerah yang berdiri sendiri, tanpa menumpang sekolah lain, namun di daerah tersebut terdapat tower bertegangan tinggi, dan para jajaran staf di situ melarang berdiri nya sekolah di situ karena tower yang berada di daerah sekolah tersebut. Lalu hingga akhirnya dosen dari kampus raharja membolehkan sekolah berdiri di daerah situ, dan hingga sekarang tetap kokoh berdiri di situ. Dan hingga sekarang, SMAN 9 tangerang ini terus melakukan pembinaan menuju yang lebih baik.
KASUS
SMAN 9 tangerang merupakan sekolah formal yang tergolong masih baru, karena baru meluluskan 6 angkatan. Walaupun tergolong baru, sekolah ini sudah terakreditasi A. Setiap tahun sekolah ini melakukan berbagai perbaikan di berbagai bidang, baik di bidang fasilitas, maupun di bidang akademik, ataupun di bidang tenaga pengajar nya. Perbaikan tersebut ada yang sudah optimal namun masih ada yang kurang optimal. Kurang optimal nya perbaikan tersebut menimbulkan suatu masalah, seperti perbaikan fasilitas di sekolah ini, perbaikan sudah dilakukan namun kurang optimal, lalu masalah tenaga pengajar yang kurang kompetent dalam mengajar dan mendidik, karena tidak semua tenaga pengajar yang melakukan tugas nya berupa mengajar dan mendidik, dan juga tenaga pengajar yang masih menjalankan sekuler matrealistik. Dalam kasus tersebut, saya akan mencoba membatasi masalah yang ada
Identifikasi Masalah
- Kurang optimalnya perbaikan di bidang fasilitas sekolah
- Tenaga pendidik ada yang kurang kompeten
- Tenaga pengajar yang menjalankan sekuler matrealistik
Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka penulis membatasi masalah. Masalah yang di batasi yaitu kurang optimalnya perbaikan di bidang fasilitas sekolah. Karena itu di harapkan perbaikan fasilitas ini dapat maksimal sehingga hasil belajar dari peserta didik dapat optimal.
Perumusan Masalah
Bagaimana cara agar perbaikan fasilitas sekolah berjalan optimal demi menciptakan suasana pembelajaran yang optimal ?
BAB II
TEORI
Definisi Pendidikan
Pendidikan mempunyai banyak definisi dari beberapa ahli
Arti pendidikan menurut beberapa ahli :
A. Menuru Prof Dr. N. Drijarkara
Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda atau pemangkatan manusia muda ke taraf insani
B. Menurut Prof. Dr. M.J. Langeveld
Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendeasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa dan ditunjukan pada orang yang belum dewasa
C. Menurut Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah tuntunan didalam hidup dan tumbuhnya anak – anak maksudnya pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya.
D. Menurut Jhon Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan– kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
E. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.
F. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sifat Pendidikan
Sifat ilmu pendidikan antara lain bersifat :
a. Terbuka, artinya memerlukan bantuan ilmu lain untuk mencapai tujuannya (psikologis,antropologis,sosial,kebudayaan,ekonomi,filsafat,politik,ideologi).
b. Teoritis, mengkaji bidang keilmuan secara luas.
c. Praktis/terapan, teori yang dikaji digunakan untuk melancarkan proses pendidikan
d. Normatif, memiliki ciri-ciri dasar yang mendukung aturan dasar yang sudah baku.
e. Deskriptif, menggambarkan seluruh pristiwa belajar tanpa adanya manipulasi.
Situasi Pendidikan
Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai kecenderungan untuk selalu berkumpul dengan orang lain. Dengan kata lain pendidikan itu muncul pada saat seorang individu berkumpul dengan orang lain. Dengan berkumpul dengan orang lain kemudian berbagai rasa ingin meniru, bertanya dan ingin tahu akan tumbuh sehingga kondisi ini merubah hubungan sosial biasa ke arah pendidikan.
Komponen dalam pendidikan
- Anak didik/peserta didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut : Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbdeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak dididk.
- Pendidik
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik. Guru sebgai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidi adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
- Tujuan dalam pendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan danpendidik dalam suatu masyarakat (Syaifulah, 1981). Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tuuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari 1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945), 2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional), 4) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah), 5) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan 6) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Denga demikian tampak keterkaitan antara tujuan instruksional yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945
- Alat pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu situasi atau perbuatan dengan situasi atau perbuatan tersebut akan dicapai tujuan pendidikan. Tindakan pendidik untuk menciptakan ketenangan agar tercapai tujuan pendidikan tertentu dalam proses pengajaran, atau melakukan perbuatan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, umpamanya nasihat, teguran, hukuman dan teguran agar anak mau berbakti pada orang tua.
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik yaitu metode diktatorialm metode liberal dan metode demokratis (Suwarno, 1981). Metode diktatoral bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar manusia, sehingg pendidikan bersifat maha kuasa. Sikap ini menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Biarkanlah anak berkembang sesuai denan kodratnya secara bebas atau liberal.
Metode demokratis bersumber dari teori konvergensi yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Di dalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat mengasai anak, tetapi harus bersifat membimbig perkembangan anak. Di sini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan. Ki Hadjar Dewantoro melahirkan asas pendidikan yang sesuai dengan metode demokratis, yaitu Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun karsa,ing ngarsa asung tulada artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang, kadang-kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak dan kadang-kadang harus didepan untuk memberi contoh atau tauladan.
- Lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis, lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan iklim geographis. Ditinjau dari hubungan lingkungan denan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld linkgungan pendidikan menjadi lingkunganyang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat kenedaan, segala sesuatu yang ada di sekeliling anak. Keseluruhan komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
BAB III
METODOLOGI
Metode merupakan salah satu faktor terpenting dan sangat menentukan dalam penelitian hal ini disebabkan karena berhasil tidaknya suatu penelitian tergantung metode yang digunakan. Agar karya tulis ini dapat memenuhi kriteria karya ilmiah, maka cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data sampai analisa data, diusahakan tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan metode yang ada.Untuk memperjelas metode yang dipakai dalam proses pengumpulan data serta, sempel,dan teknik analisa data maka akan dibahas tentang jenis penelitian, sempel , sumber data, teknik pengumpulan data dan analisis data. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Penelitian kualitatif bersifat induktif maksudnya peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi).
Sempel atau objek kajian
Sempel merupakan bagian dari sebuah populasi obyek yang ingin dikaji. Dan dalam hal ini penulis mengambil sempel dari seorang siswi SMAN 9 Tangerang yang bernama Badriyatus Syifa. Seorang siswi dari jurusan IPS yang sedang menunggu kelulusan hasil dari UN
Sumber data
Sumber data merupakan subyek dari mana data diperoleh. Adapun dalam memperoleh data, penulis menggunakan dua sumber yang penulis jadikan sumber untuk memporeh data dalam menyusun karya ilmiah yaitu:
· Field Literature
Field Literature Adalah sumber data yang digunakan untuk mencari landasan teori tentang permasalahan yang diteliti dengan menggunakan buku pelajaran dan juga dari website-website internet.
[4])
· Field Research
Field Reaserch Adalah sumber data yang diperoleh dari lapangan penelitian, yaitu mencari data dengan cara terjun langsung ke obyek penelitian untuk memperoleh data yang lebih konkrit yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
[5]) Adapun yang menjadi sumber data ini adalah manusia dalam hal ini yaitu narasumber seorang Fasilitator yang bernama Bapak Tendi.
Teknik Pengumpulan Data
Metode Interview atau wawancara
Metode wawancara merupakan suatu metode pengumpulan data dengan system Tanya jawab antara narasuber dengan pewawancara. Proses wawancara ini penulis tujukan kepada seorang siswi dari SMAN 9 tangerang bernama Badriyatus Syifa. Proses wawancara dilakukan sebanyak satu kali yaitu pada tanggal 24 Mei 2011.
Analisa data
Setelah semua data terkumpul yang dilakukan adalah analisis data. Analisa data merupakan suatu usaha untuk merumuskan pertanyaan serta jawaban guna menacari kebenaran atupun jalan keluar atas data-data yang telah di peroleh. Analisa data ini terdiri dari tiga tahapan yaitu :
Reduksi data
Reduksi data merupakan suatu usaha untuk memfokuskan terhadap hal-hal yang dianggap hal pokok ataupun hal penting dari data yang telah diperoleh. Pada tahap ini terjadi proses pemilahan data antara data yang digunakan lebih lanjut dengan data yang tidak digunakan lagi. Dalam hal ini pembahasan difokuskan terhadap satu masalah yaitu ketidak efisienan waktu pengajaran dan setelah menjabarkan landasan ilmiah kemudian penulis hanya menggunakan sebagian dari landasan ilmiah yang berhubungan dengan fokus masalah.
Display data
Display data atau penampilan data merupakan sebuah proses penampilan data yang telah diperoleh secara jelas serta menyeluruh.Berikut adalah data yang penulis peroleh beserta pertanyaan yang diajukan kepada narasumber :
Penulis : Prestasi apa saja yang telah di peroleh SMAN 9 Tangerang yang anda tahu saja? Peran serta siapa saja?
Syifa : kalau prestasi sih banyak, dari futsal, takraw, pencak silat, olimpiade MIPA, Paskibra, dan banyak deh. Kalau peran serta, tentu saja guru pembimbing dalam hal ini berperan pokok dalam membina dan memotivasi teman-teman sehingga bisa juara seperti itu.
Penulis : Bagaimana peran tenaga pengajar terkait aktivitas belajar?
Syifa : banyak berpengaruh, terbukti banyak yang menang lomba tak hanya lomba di bidang akademik, di bidang non akademik juga, tapi gag semuanya seperti itu
Penulis : adakah aktivitas lain yang mendukung aktivitas dalam pembelajaran?
Syifa : ada, selain ada ekskul yang di adakan biasanya sabtu sama minggu atau pulang sekolah, ada juga PD (pengembangan Diri) di hari jumat di lakukan setelah 2 jam pembelajaran, dan setiap hari Jumat juga, yang laki-laki melakuan Solat Jumat, dan yang wanita nya melakukan keputrian, sedangkan untuk siswa/siswi yang non Muslim, melakukan kegiatan seperti Rokris (Rohani Kristen).
Panulis : Bagaimana peranan aktivitas pembelajaran oleh tenaga pendidik kepada anak didik nya?
Syifa : Perannya, ya ada guru yang benar-benar serius menerangkan materi, ada juga guru yang memberikan catatan saja dan dia nya langsung keluar, ada juga guru yang memberikan soal trus guru nya langsung keluar, trus guru yang kalau lagi nerangin, trus ada anak yang berisik, tuh guru ngambek tidak mau masuk kelas, trus ada juga guru yang nerangin untuk dirinya sendiri.
Penulis : Bagaimana peran tenaga pengajar dengan hasil belajar anak didik?
Syifa : Sangat berpengaruh sekali, kalau anak tidak nurut, maka berpengaruh kepada nilai
Penulis : Bagaimana Fasilitas pembelajaran sehingga dapat optimal dalam peningkatan hasil pembelajaran?
Syifa : Fasilitas nya kurang bagus, terbukti lab komputer masih pentium 2 dan internet nya tidak ada, terus di lab bahasa, banyak earphone yang tidak berfungsi, AC nya panas, kipas banyak yang rusak, internit ruangan banyak yang copot, sehingga mengganggu kalau sedang belajar, karena suara dari kelas sebelah akan terdengar.
Penulis : Bagaimana proses pembelajaran yang di lakukan?
Syifa : Proses pembelajaran dari jam 6.30-14.30, tetapi khusus untuk hari senin saja, pulang nya sampai jam 15.00, belajar efektif dari hari senin-kamis, sedangkan Jumat di isi dengan PD dan Ekskul, sabtu libur, tapi menurut pendapat saya, lebih baik sekolah sampai hari sabtu, namun jam pulang sekolah nya jangan terlalu sore.
Penulis : Hal apa saja yang di lakukan untuk mengetahui proses pembelajaran berjalan baik atau tidak?
Syifa : mengadakan ulangan untuk mengetes sejauh mana siswa dapat menyerap pelajaran di kelas, dan untuk guru sendiri di lakukan penilaian agar pembelajaran yang di berikan optimal
Penulis : Seberapa pentingkah kegiatan di luar jam sekolah dalam proses pembelajaran?
Syifa : penting, tetapi tidak terlalu efektif karena hanya buang-buang duit, seperti kegiatan bulutangkis dan renang, siswa harus mengeluarkan duit yang lumayan besar untuk kalangan siswa, semestinya biaya nya tidak sebesar itu.
Verifikasi dan simpulan data
Pada tahap ini semua data yang telah diolah akan dicek kembali guna menghasilkan sesuatu kesimpulan yang matang yang sesuai dengan fokus masalah,tujuan penilitian dan temuan masalah.
KONTRUKSI PENULISAN
Identifikasi
- Mengumpulkan Tema-tema atau Pokok kajian yang akan dibuat
- Membandingkan serta menentukan Pokok kajian yang ingin dikaji
- Memehami teori-teori seputar masalah Pokok yang ingin dikaji
Perencanaan
- Menentukan Lokasi atau lembaga yang akan diteliti
- Membuat Pertanyaan berdasarkan teori-teori yang telah dipahami
- Menentukan Jenis wawancara seperti apa yang ingin dipakai
Pelaksanaan
- Mencari Serta membuat jadwal wawancara
- Proses wawancara
- Menanyakan pertanyaan yang telah dibuat
- Mencatatnya pada kertas
Evaluasi
- Cari hal-hal yang masih kurang dan perlu untuk ditanyakan kepada nara sumber
- Membandingkan informasi yang didapat dengan Pokok hal yang ingin dikaji apakah sudah relevan
- Apabila masih terdapat kekurangan maka melakukan proses wawancara lagi.
BAB IV
HASIL ANALISIS MASALAH
Konstruksi Ideal Fokus Masalah yang di Kaji
Masalah yang di kaji oleh penulis yaitu mengangkat fasilitas sekolah yang kurang optimal dalam perbaikan fasilitas nya. Dengan kurang optimalnya perbaikan tersebut, maka berdampak pada murid yang sedang melakukan proses pembelajaran. Para murid menjadi tidak dapat mengoptimalkan pembelajaran yang di berikan oleh tenaga pendidik. karena kekurang optimal nya pembelajaran, berdampak pada hasil akhir akademis mereka, baik dalam nilai maupun keterampilan.
Harapan penulis yaitu di lakukan perbaikan di bidang fasilitas sekolah. Perbaikan tersebut harus segera, dan berjalan dengan optimal, jangan hanya perbaikan di bidang mutu pembelajaran saja, namun perbaikan di bidang fasilitas sekolah juga harus di tingkatkan. Agar murid-murid yang melakukan pembelajaran dapat mengoptimalkan kemampuan mereka.
Deskripsi Temuan Masalah yang Ada Pada Fokus Kajian
Dengan kurang optimalnya perbaikan di bidang fasilitas sekolah, maka terdapat masalah-masalah yang timbul. Penulis mencoba menemukan masalah-masalah tersebut. Dengan kurang nya fasilitas terutama di bidang lab komputer, maka para murid tidak bisa menggunakan akses multimedia secara optimal, menyebabkan mereka kurang nya ilmu dalam hal komputer. Karena beberapa pengalaman yang di dapat, banyak komputer yang tersedia di lab komputer, namun tidak semua nya berfungsi dengan baik (rusak). Dan ada juga komputer yang berfungsi, namun program untuk pembelajaran para murid (adobe photoshop/corel draw) tidak tersedia, sehingga mereka harus bergantian dengan teman nya untuk mempelajari program tersebut, atau mereka harus menggunakan 1 komputer untuk 3 sampai 4 orang, karena ketersediaan komputer yang terbatas. dan juga AC di lab komputer yang terkadang panas, menyebabkan para anak didik (murid) merasa kepanasan, dan mereka keluar lab untuk mengatasi kepanasan tersebut, tetapi ada juga yang justru pergi ke kantin tampa sepengetahuan sang guru pembimbing. Dan juga fasilitas internet di ruang lab komputer yang sampai saat ini belum tersedia. Hal tersebut menimbulkan para anak didik (murid) tidak dapat belajar dengan baik menggunakan internet.
Lalu fasilitas lain yang masih harus di perbaiki secara optimal yaitu eternit kelas (langit-langit kelas). Ada beberapa kelas di lantai 2 yang tidak ada internit nya, sekitar 6 kelas tidak ada internit nya. hal ini menimbulkan proses pembelajaran di dalam kelas terganggu, karena suara dari kelas yang satu dapat terdengar ke kelas yang lain, apalagi kalau sedang pelajaran Bahasa Jepang, di mana sedang melakukan pembelajaran berupa hafalan, maka akan sangat terganggu sekali, menimbulkan konsentrasi para murid berkurang karena terganggu dengan suara dari kelas Bahasa Jepang yang sedang melakukan hafalan tersebut.
Lalu penulis menemukan permasalahan lagi pada fasilitas sekolah. Ada nya fasilitas kipas angin tiap kelas. Fasilitas ini tergolong masih baru, namun kurang nya kerjasama antara para murid dan pihak sekolah, menyebabkan fasilitas kipas angin ini banyak yang rusak, menyebabkan para murid terganggu, karena kipas yang rusak menyebabkan ruangan menjadi panas, dan ada kipas yang sudah rusak namun di paksakan, sehingga menyebabkan kipas tersebut jatuh dan menimpa murid yang sedang belajar. Hal ini juga yang membuat para murid menjadi was-was (takut) untuk duduk di bawak kipas angin tersebut. Sehingga mereka (murid) kurang optimal dalam memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran.
Analisis Masalah Yang di Kaji
Fasilitas yang kurang optimal di sekolah menyebabkan pembelajaran pada peserta didik menjadi kurang optimal juga. Penulis mengharapkan peran serta seluruh warga sekolah ikut gotong royong dalam memperbaiki fasilitas tersebut.
Seperti pada materi Proses Pendidikan, aktivitas pendidikan dapat di gambarkan sebagai suatu sistem yang unsur-unsur/komponennya adalah imput, proses, dan out put. Proses pendidikan merupakan kegiatan utama perubahan input (siswa) menjadi out put (keluaran) disinilah peran utama pendidikan. Dalam aktivitas pendidikan tidak hanya melihat hasil, tetapi justru yang terpenting adalah proses nya, (perolehan ilmu pengetahuan dan keterampilan-learning proses). Dari teori diatas, terdapat input-proses-output. Dapat di jelaskan sebagai berikut:
- Sangat mempengaruhi oleh adanya instumental input yang terdiri dari:
1. manusia, baik guru, orang tua murid, dan administrator
2. metode yang dapat digunakan
3. material lain yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk belajar. (alat-alat pendidikan)
· pendidikan dapat dilihat sebagai sistem : sistem adalah gabungan komponen-komponen yang saling berinteraksi dan berinterfungsi untuk mencapai tujuan.
Dari mareri di atas tentang input-proses-output, penulis tertarik dengan suatu proses yang terjadi di 3 tahap tersebut. Input di olah oleh proses, di proses ini sangat di pengaruhi salah satu nya oleh fasilitas pendidikan nya, sehingga menciptakan output yang bagus. Kalau fasilitas untuk mendukung proses ini kurang optimal, maka output dari proses tersebut bisa saja menjadi tidak optimal, karena mereka suatu hubungan yang saling mempengarui.
Faktor-faktor pendidikan merupakan komponen-komponen yang merupakan syarat mutlak berlangsungnya pendidikan. Komponen-komponen tersebut adanya anak didik, pendidik, adanya tujuan yaitu kearah anak itu akan dibawa, alat pendidikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut, serta faktor lingkungan yang tidak diragukan lagi pengaruhnya terhadap berlangsungnya pendidikan. Menurut Lengeveld (1971), macam-macam alat pendidikan dari segi wujudnya berupa benda-benda yang di gunakan sebagai alat bantu (sering di sebut hardware) mencakup meja-kursi belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, buku, peta, dan lainnya. Pada teori Lengveld ini, hardware berpengaruh terhadap keoptimalan hasil belajar, karena hardware yang baik akan mendukung software untuk bekerja. Kalau suatu sekolah hardware nya masih kurang optimal, maka berdampak pada software yang sedang melakukan proses pembelajaran.
Solusi Permasalahan
Berdasarkan teori yang terkait dari perumusan permasalahan di ataas, penulis mencoba membuat solusi permasalahan sebagai berikut:
perencanaan yang mestinya harus di lakukan menurut penulis terhadap kasus di atas, yaitu dengan memfokuskan perbaikan di satu bidang terlebih dahulu, agar hasil nya efektif dan efisien. Bila dilakukan perbaikan secara bersama-sama, maka ada perbaikan-perbaikan yang kurang optimal. Lalu karena semua fasilitas itu penting, maka perbaikan fasilitas harus di mulai dari fasilitas yang paling fatal dan paling berpengaruh penting, seperti perbaikan eternit ruangan. Sebab dengan tidak ada nya eternit pada hampir 6 kelas, menyebabkan konsentrasi anak didik terganggu, karena suara dari kelas lain bisa terdengar, apalagi kalau kelas tersebut sedang tidak ada gurunya atau sedang melakukan hafalan. Lalu di mulai memperbaiki ruang lab komputer, dimana peserta didik dapat mempelajari multimedia dengan baik. Tak harus ada internet, yang penting komputer yang tersedia sudah memenuhi standart untuk menjalankan program-program (software) yang menunjang dalam pembelajaran, seperti correl draw atau adobe photoshop.
Tindak aksi yang mungkin dilakukan kita sebagai orang yang berpendidikan yaitu dengan melaporkan dan meminta perbaikan kepada pihak sekolah terutama di bagian fasilitas. Meminta perbaikan secepatnya, karena demi kebaikan bersama dan kelancaran dalam belajar. Kalau perbaikan berjalan lancar dan optimal, maka bukan hal yang mustahil proses pembelajaran dapat berjalan optimal pula seiring dengan fasilitas yang optimal.
Setelah fasilitas sekolah sudah di perbaiki, di harapkan semua anggota sekolah (guru, murid, maupun staf) ikut gotong royong dan bahu-membahu menjaga nya, kalau perlu dibuatkan peraturan yang tegas terhadap pelanggaran perusakan fasilitas sekolah, agar menciptakan efek jera pada orang-orang yang tangan nya jahil dan usil. Dan juga Perlu di tumbuhkan rasa kesadaran akan penggunaan fasilitas sekolah, agar semua anggota sekolah dapat menggunakannya dengan benar dan sesuai dengan fungsi nya.
BAB V
KESIMPULAN
Jadi kesimpulan dari masalah tersebut yaitu karena perbaikan fasilitas sekolah yang kurang optimal, menyebabkan pembelajaran pada peserta didik kurang optimal. Pembelajaran kurang optimal karena dalam pembelajaran tidak bisa menggunakan fasilitas sekolah dengan baik. Perlu di adakan dengan cepat perbaikan tersebut demi kelancaran dalam proses pem belajaran, dan juga untuk mencapai keoptimalan dalam pembelajaran.
REKOMENDASI
Berdasarkan hasil wawancara ke salah satu siswi yang bernama Badriyatus Syifa, penulis menemukan beberapa permasalahan yang harus segera di perbaiki, yaitu perbaikan fasilitas yang kurang optimal. Penulis merekomendasikan perlu ada nya pemberitahuan atau laporan dini oleh peserta didik mengenai fasilitas tersebut kepada pihak sekolah terutama di bagian fasilitas agar segera di perbaiki fasilitas tersebut demi mencapai keoptimalan dalam hasil belajar. Dan segera membuat peraturan yang tegas tentang perusakan fasilitas sekolah, agar menciptakan efek jera kepada pelaku perusakan, dan agar fasilitas yang ada dapat bertahan lama.
DAFTAR PUSTAKA