Tema : banyak anak yang tidak bisa bersekolah atau putus sekolah
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran. Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam. Sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi. Dengan adanya tuntutan usaha-usaha mensejahterakan individu dan masyarakat, maka pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Pendidikan dalam arti luas tak hanya bersifat formal, namun ada juga yang bersifat tidak formal, seperti pendidikan informal dan non formal. Kedua jenis pendidikan tersebut harus terpadu dan kompeten dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung untuk seorang individu belajar.
Pada UU No. 2 tahun 1989 bab III pasal 5 sampai 8, yang intinya itu bahwa setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan, tanpa membeda-bedakan antara satu individu dan individu lain, dan mereka semua memiliki hak yang sama. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa pendidikan itu universal, maksud nya setiap orang berhak untuk memperolehnya, namun dalam perjalanannya, masih banyak ditemukan praktek-praktek yang menyelewengkan pasal tersebut, karena jika dilihat kenyataan nya, tidak semua orang dapat mengikuti kegiatan pendidikan, terutama pendidikan formal. Penulis sedikit bertanya-tanya pada pasal 7 di UU tersebut, yang isi nya “Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.”. apakah UU tersebut sudah dilaksanakan dengan benar sesuai dengan isi dan ketetapan nya? Menurut penulis pribadi, banyak pratek-praktek di dalam dunia pendidikan yang tidak sesuai dengan pasal tersebut. Penyebab nya yaitu mahal nya pendidikan di Indonesia. Karena mahalnya pendidikan di Indonesia, maka kesempatan belajar bagi orang-orang yang ekonomi nya tergolong miskin, tak dapat mengikuti kegiatan belajar tersebut. Penulis tertarik mengangkat tema tentang mahal nya pendidikan di Indonesia yang menyebabkan banyak anak tidak sekolah atau putus sekolah.
Kasus
Banyak calon peserta didik atau anak didik di Indonesia yang tidak dapat mengikuti kegiatan pendidikan secara formal karena terbentur oleh masalah uang. Para calon/ anak didik ini di wajibkan untuk membayar uang sekolah yang menurut sejumlah kalangan bisa di bilang mahal. Seperti kasus pada anak jalanan yang ada di daerah Depok. Ditengah kesibukan mereka mencari uang, banyak dari mereka (anak jalanan) yang memiliki keinginan kuat untuk mengenyam bangku sekolah. karena keinginan para anak jalanan yang kuat itu, akhirnya ada sebuah yayasan Bina Insan Mandiri mendirikan sebuah sekolah terminal atau yang di kenal dengan sebutan Masjid Terminal (Master). Jumlah siswa yang bersekolah di Master ini semakin bertambah, bahkan tak hanya anak jalanan saja yang mengikuti proses pembelajaran, melainkan pelajar yang berasal dari keluarga miskin. Para pelajar ini rata-rata tidak memiliki biaya untuk mendapatkan pendidikan secara formal di sekolah-sekolah umum nya, inilah yang mencerminkan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sehingga berdampak kepada anak, yang dimana mereka harus berhenti bersekolah karena terbentur biaya.
Identifikasi Masalah
- anak didik yang tidak bisa sekolah
- anak yang tak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
- kurangnya niat belajar untuk anak-anak
Pembatasan Masalah
Banyak calon peserta didik atau peserta didik yang tidak dapat bersekolah atau tidak dapat melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu diharapkan biaya pendidikan di Indonesia harus lah terjangkau untuk kalangan yang tidak mampu agar setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak
Perumusan Masalah
Bagaimana membuat masyarakat yang kurang mampu dapat tetap melakukan kegiatan pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN TEORI
Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan – Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Dari pengertian-pengertian dan analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya.
Dalam pendidikan terdapat dua hal penting yaitu aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa). Sebagai ilustrasi, saat kita mempelajari sesuatu maka di dalamnya tidak saja proses berpikir yang ambil bagian tapi juga ada unsur-unsur yang berkaitan dengan perasaan seperti semangat, suka dan lain-lain. Substansi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah membebaskan manusia dan menurut Drikarya adalah memanusiakan manusia. Ini menunjukan bahwa para pakar pun menilai bahwa pendidikan tidak hanya sekedar memperhatikan aspek kognitif saja tapi cakupannya harus lebih luas.
Sifat Pendidikan
Sifat ilmu pendidikan antara lain bersifat :
1. Terbuka, artinya memerlukan bantuan ilmu lain untuk mencapai tujuannya (psikologis,antropologis,sosial,kebudayaan,ekonomi,filsafat,politik,ideologi).
2. Teoritis, mengkaji bidang keilmuan secara luas.
3. Praktis/terapan, teori yang dikaji digunakan untuk melancarkan proses pendidikan
4. Normatif, memiliki ciri-ciri dasar yang mendukung aturan dasar yang sudah baku.
5. Deskriptif, menggambarkan seluruh pristiwa belajar tanpa adanya manipulasi.
Situasi Pendidikan
Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai kecenderungan untuk selalu berkumpul dengan orang lain. Dengan kata lain pendidikan itu muncul pada saat seorang individu berkumpul dengan orang lain. Dengan berkumpul dengan orang lain kemudian berbagai rasa ingin meniru, bertanya dan ingin tahu akan tumbuh sehingga kondisi ini merubah hubunga sosial biasa ke arah pendidikan.
Landasan Pendidikan
Berikut landasan yang ada dalam dunia pendidikan, ada landasan filosofis, sosial budaya, dan psiologis. Berikut dengan sedikit penjelasan:
· Landasan Filosofis dalam pendidikan
Landasan filosofis terhadap pendidikan mengkaji masalah sekitar pendidikan dari sudut pandang filsafat. Terdapat 4 macam mazhab filsafat yang besar pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan yaitu:
Ø Esensialisme, merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara ekletis.
Ø Perenialisme Menekankan keabadian bahwa segala sesuatu itu berubah. Diutamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perenial.
Ø Progresifisme, perubahan merupakan inti dari kenyataan. Prinsip pokok konsepsi ini adalah:
a. Anak harus bebas untuk dapat berkembnag secara wajar
b. Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
c. Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d. Sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan eksperimen
e. Sekolah tidak mengajr anak, melainkan melaksankan pendidikan.
f. Pendidikan bukan bersifat hidup,tetapi merupakan kehidupan itu sendiri
g. Hanya demokrasilah yang memungkinkan saling tukar menukar ide secara bebas dan berguna.
h. Belajar melalui pemecahan masalah hendaklah diutamakan daripada pelajaran yang pasif yang bersifat suject-matter.
· Landasan sosologis
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara pendidik da
Peserta didik. Oleh karena itu kegiatan pendidikan yang baik itu dapat berlangsung di keluarga, sekolah dan masyarakat.
· Landasan kultural
· Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung budaya. Kebudayaa dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik.
· Landasan psikologi
Pemahaman peserta didik merupakan kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu psikologis sangat dibutuhkan untuk menilai tingkat pemahaman seorang anak.
Komponen dalam pendidikan
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang meiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut. Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik minimal terdiri dari 6 komponen, yaitu 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) isi pendidikan, dan 6) konteks yang memepengaruhi suasana pendidikan. Berikut akan diuraikan satu persatu komponen-komponen tersebut.
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan danpendidik dalam suatu masyarakat (Syaifulah, 1981). Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tuuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari 1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945), 2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional), 4) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah), 5) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan 6) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Denga demikian tampak keterkaitan antara tujuan instruksional yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut :
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbdeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak dididk.
- Pendidikan
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik. Guru sebgai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidi adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
- Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh Syaifullah adalah sebagai berikut : (1) manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap, (2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik, (3) manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri, (4) manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif, (5) manusia yang telah mencapai umur kronologs paling rendah 18 th, (6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat, (7) manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga, dan (8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.
Kedudukan orang tua sebgai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka. Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada orang yang memikirkan tentang pendidikan. Secara umum dapat dikatan bahwa semua orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bahasan di atas, bahwa kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.
Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yangingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Selain orang dewasa, orang uta dan guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
- Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
Proses pendidikan bisa terjadi apabila terdapat interaksi antara komponen-komponen pendidikan. Terutama interaksi antara pendidik dan anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Tindakan yang dilakukan pendidik dalam interaksi tersebut mungkin berupa tindakan berdasarkan kewibawaan, tindakan berupa alat pendidikan, dan metode pendidikan.
Pendidikan berdasarkan kewibawaan dpat dicontohkan dalam peristiwa pengajaran dimana seorang guru sedang memberikan pengajaran, diantara beberapa murid membuat suatu yang menyebabkan terganggunya jalan pengajaran. Kemudian guru tersebut memberikan peringatan, maka belau ini telah melaksanakan tindakan berdasarkan kewibawaan. Dengan demikian tindakan berdasrkan kewibawaan yaitu bersumber dari orang dewasa sebagai pendidik, untuk mencapai tujuan pendidikan (tujuan kesusilaan, sosial dan lain-lain) (Syaifullah, 1982).
Alat pendidikan adalah suatu situasi atau perbuatan dengan situasi atau perbuatan tersebut akan dicapai tujuan pendidikan. Tindakan pendidik untuk menciptakan ketenangan agar tercapai tujuan pendidikan tertentu dalam proses pengajaran, atau melakukan perbuatan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, umpamanya nasihat, teguran, hukuman dan teguran agar anak mau berbakti pada orang tua.
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik yaitu metode diktatorialm metode liberal dan metode demokratis (Suwarno, 1981). Metode diktatoral bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar manusia, sehingg pendidikan bersifat maha kuasa. Sikap ini menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Biarkanlah anak berkembang sesuai denan kodratnya secara bebas atau liberal.
Metode demokratis bersumber dari teori konvergensi yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Di dalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat mengasai anak, tetapi harus bersifat membimbig perkembangan anak. Di sini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan. Ki Hadjar Dewantoro melahirkan asas pendidikan yang sesuai dengan metode demokratis, yaitu Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun karsa,ing ngarsa asung tulada artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang, kadang-kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak dan kadang-kadang harus didepan untuk memberi contoh atau tauladan.
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/bahan yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Isi pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia ideal yang dicita-citakan. Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang keseluruhan sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi dengan bahan pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan peindidikan jasmani.
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis, lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan iklim geographis. Ditinjau dari hubungan lingkungan denan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld linkgungan pendidikan menjadi lingkunganyang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat kenedaan, segala sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Keseluruhan komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
BAB III
HASIL ANALISIS MASALAH
Kontruksi Ideal Fokus Masalah Yang Di Kaji
Masalah yang dikaji oleh penulis yaitu banyak masyarakat yang tidak bisa mengikuti proses pendidikan yang layak. Mereka tidak dapat mengikuti proses pendidikan tersebut karena terbentur oleh biaya pendidikan di Indonesia yang mahal.
Harapan penulis agar masyarakat yang tergolong tidak mampu, mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah mengenai masalah pendidikan mereka. Lalu membuat sekolah khusus untuk masyarakat yang kurang mampu, sehingga mereka dapat melakukan proses pendidikan walaupun sifatnya tidak formal. Dan juga memberikan sebuah sekolah, untuk mengembangkan bakat mereka, karena walaupun mereka tidak dapat bersekolah secara formal, namun mereka masih bisa mengembangkan bakat mereka, seperti bernyanyi, bermain musik, menggambar, menari, dan lain-lain.
Deskripsi Temuan Masalah yang Ada Pada Fokus Kajian
Masalah yang timbul akibat anak tidak bisa melanjutkan atau mengikuti pendidikan yaitu kurang terarahnya bakat mereka, kurangnya bimbingan baik jasmani maupun rohani, rasa ingin tahu mereka tidak dapat di jawab, dan masa depan mereka dalam pemenuhan cita-cita atau kesejahteraan hidup akan sulit di realisasikan.
Analisis Masalah yang Di Kaji Dengan Konstruksi Ideal
Anak yang putus sekolah atau tidak mengenyam dunia pendidikan akan sulit untuk merealisasikan cita-cita mereka di masa depan nya. maka dari itu, penulis mengharapkan adanya peran serta pemerintah atau masyarakat sekitar dalam membuat sekolah, dimana sekolah tersebut di gunakan untuk anak-anak yang tidak mampu untuk bersekolah di sekolah formal. Dan di sekolah tersebut, di ajarkan cara-cara mengembangkan bakat dan minat anak-anak tersebut. Karena lingkungan pendidikan tak hanya pendidikan formal, melainkan ada juga pendidikan non formal. Pendidikan ini mengarahkan kepada orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal.
Ciri-ciri dari pendidikan non formal yaitu, diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah, peserta tidak homogen (dari berbagai kalangan), tidak mengenal jenjang, dan isi pendidikan praktis dan khusus. Selain pendidikan non formal, pendidikan informal juga sangat penting dilakukan. Sebab pendidikan informal seperti pendidikan yang ada di keluarga, atau pergaulan sehari-hari. Pendidikan ini biasa nya didapatkan sejak manusia dilahirkan.
Lalu dalam teori hakikan manusia dari segi psiklologi humanistik, dimana manusia bukan suatu objek yang di bentuk oleh pengalamannya, melainkan manusia itu subjek yang mengolah pengalamannya. Dan anak-anak yang tidak dapat bersekolah di sekolah formal, harus bisa mengolah pengalaman nya yang didapat dari pendidikan nonformal untuk diterapkan dalam kehidupan mereka di masa depan.
Berdasarkan teori hakekat manusia dari segi psikologi humanistik, manusia memproyeksikan dirinya ke masadepan, dan manusia nya sendiri yang merancang dan membangun proyeksi layar tersebut. Jadi jika anak yang tidak dapat pendidikan formal, namun mengikuti pendidikan nonformal, diharapkan anak tersebut mampu mengaplikasikan ilmu atau keterampilan mereka yang didapat dari pendidikan nonformal di masa depan mereka.
Solusi Permasalahan
Berdasarkan teori yang terkait dari perumusan permasalahan, penulis mencoba membuat solusi permasalahan sebagai berikut
Perlu dukungan dari pemerintah untuk membuat sekolah gratis atau sekolah yang hanya digunakan untuk mengembangkan minat dan bakat (sekolah nonformal). perlu nya peran orang tua untuk memotivasi anak agar dapat terus sekolah walaupun tidak mempunyai dana dengan memberikan motivasi agar anak tersebut dapat beasiswa karena prestasi nya, pemerintah perlu membuat program seperti dana BOS, tetapi bantuan tersebut sebisa mungkin jatuh pada tangan yang tepat. Pentingnya peran pemerintah maupun masyarakat dalam memandang proses pendidikan nonformal, seperti contoh penyamaan status pendidikan nonformal dan formal, tanpa adanya diskriminasi.
Tindakan yang paling mungkin dilakukan kita sebagai orang yang berpendidikan yaitu membantu ikut serta dalam menciptakan pendidikan nonformal dikalangan orang-orang yang tidak mampu atau orang-orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar di pendidikan formal. Karena dengan adanya pendidikan nonformal di kalangan masyarakat yang tidak mampu, mereka bisa mengembangkan bakat dan kemampuan mereka tanpa harus belajar di pendidikan formal, yang dimana biaya untuk pendidikan formal mahal dikalangan orang-orang yang tidak mampu.
Diharapkan dengan adanya peran serta masyarakat dan pemerintah dalam mendukung pendidikan nonformal dikalangan orang yang tidak mampu, anak-anak yang tidak dapat bersekolah di pendidikan formal masih dapat belajar dengan serius dalam menggapai masa depan mereka demi mencapai kesejahteraan hidup mereka.
BAB IV KESIMPULAN
Jadi kesimpulan dari masalah tersebut yaitu karena mahalnya pendidikan di Indonesia, menyebabkan banyak anak putus sekolah dan anak dari keluarga yang kurang mampu tidak dapat bersekolah. Namun semua itu akan bisa di atasi dengan diadakan nya pendidikan nonformal dikalangan masyarakat yang kurang mampu, dan itu semua membutuhkan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Dan juga diharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan berupa bantuan dana pendidikan kepada masyarakat yang kurang mampu agar kesempatan untuk mereka belajar tetap terbuka.
Saran
Saran dari penulis, pendidikan itu sangat penting demi mencapai cita-cita dan masa depan yang cerah, namun jika pendidikan formal mahal, maka masih ada pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal harus mendapat perhatian yang sama dari pemerintah seperti pendidikan formal, sebab kenyataan di masyarakat, pendidikan nonformal sering di pandang sebelah mata oleh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
http://meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah-masalah-pendidikan-di-indonesia/